Oleh: muhammadahsin | Maret 9, 2009

Nilai dan Fungsi Anemon Laut. Kondisi dan Potensi yang Terabaikan

A. Deskripsi Anemon Laut

Anemon laut merupakan salah satu jenis karang dari filum Cnidaria. Karang dan anemon laut adalah anggota taksonomi kelas yang sama, yaitu Anthozoa. Perbedaan utama adalah karang menghasilkan kerangka luar dari kalsium karbonat, sedangkan anemon tidak. Lebih dari 1.000 spesies anemon laut ditemukan di perairan pantai, perairan dangkal (terumbu karang), dan perairan laut dalam di seluruh dunia.

Anemon laut adalah binatang invertebrata yang tidak memiliki tulang belakang atau tidak memiliki skeleton pada seluruh tubuhnya. Anemon merupakan hewan predator yang tampak seperti bunga, memiliki berbagai bentuk, ukuran, dan warna. Tubuhnya radial semetrik, columnar dan memiliki satu lubang mulut yang dikelilingi oleh tentakel. Tentakel dapat melindungi tubuhnya terhadap serangan predator lain dan dapat pula digunakan untuk menangkap makanannya. Anemon laut biasanya memiliki ukuran diameter tubuh 1-4 inchi (2,5-10 cm), tetapi beberapa anemon ada juga yang dapat tumbuh mencapai diameter tubuh 6 kaki (1,8 m).

Menurut Shimek (2006), secara umum anemon laut adalah hewan berkantung yang mempunyai tentakel dan mulut pada pada bagian atas dan pedal disk pada bagian bawah. Pedal disk atau kaki jalan ini secara khusus digunakan oleh anemon untuk melengketkan tubunya pada substrat (Gambar 1).

Anemon laut tergolong binatang yang dapat memakan binatang apa saja yang hidup di laut, namun ia lebih bersifat karnivora. Jenis makanan yang bisa disantap adalah moluska, krustasea, ikan, dan berbagai invertebrata lainnya. Juga dapat memakan detritus, feses, dan bahan organik.

Reproduksi anemon laut umumnya dilakukan baik secara seksual maupun aseksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara memutuskan bagian kakinya, yaitu bagian dari lingkar kaki yang ditinggalkan pada saat binatang tersebut berpindah tempat. Jenis anemon lain dengan cara merangkak perlahan ke arah yang berlawanan hingga tubuhnya terputus menjadi dua bagian. Bagian tersebut kemudian membulat dan hidup menjadi anemon-anemon baru. Tiga jenis anemon laut dari famili Stichodactylidae melakukan reproduksi secara aseksual dengan pembelahan longitudinal dan transversal. Ketiga jenis anemon ini adalah Stichodactyla helianthus, Entacmaea quadricolor (longitudinal) dan Heteractis maginifica (transversal) (Dunn (1981). Sedangkan reproduksi seksual terjadi di dalam air. Sperma dan telur keluar melalui mulut dan bersatu membentuk zigot kemudian berkembang menjadi larva. Larva ini akan berenang dan mencari makan sendiri hingga akhirnya melekat di dasar sebagai bentik dan tumbuh menjadi anemon dewasa (Boolootian and Stiles, 1976). Anemon laut dapat juga bersifat hermaprodit. Telur dan sperma dari jenis yang hermaprodit ini dihasilkan dari gonad-gonad yang terletak dalam gastroderm pada waktu yang berbeda. Peristiwa ini dikenal sebagai protandri dan umum terjadi pada invertebrata

Penyebaran anemon laut sangat luas mulai perairan sub tropis hingga perairan tropis. Di alam bebas anemon ditemukan hidup secara soliter dan bergerombol membentuk koloni. Anemon yang hidup soliter termasuk dalam bangsa atau ordo Actinaria, sedang yang hidup bergerombol termasuk dalam bangsa atau ordo Zoanthidea. Anemon hidup di dasar laut menempel pada benda keras, pecahan karang, pasir. Ada pula yang sedikit membenamkan bagian tubuhnya ke dasar tanah yang agak berlumpur. Anemon umumnya dijumpai pada daerah terumbu karang yang kurang subur dan dangkal, di goa atau di lereng terumbu. Namun ada juga yang hidup di tepian padang lamun.

B. Nilai dan Fungsi Anemon

Anemon laut merupakan salah satu komoditi perairan yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis. Biota ini sangat populer sebagai bahan makanan laut (Sea Food), terutama di luar negeri antara lain Perancis, Jepang, Korea, dan Kepulauan Pasifik bagian Timur. Nilai ekonomis penting lainnya adalah dapat dijadikan sebagai hewan pengisi akuarium yang sangat indah dan menarik karena memiliki bentuk tubuh yang meyerupai bunga beraneka warna. Menurut Suwignyo dkk., (2005), beberapa jenis anemon laut seperti Actinaria equima, Anemonia sulcata, Bunodactis verrocosa, Redianthus malu, dan Stoichactis keuti telah di ekspor ke Singapura, Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada sebagai anemon hias untuk akuarium laut. Selain itu anemon memiliki sel-sel penyengat (nematokis) yang mengandung bioaktif potensial berupa toxin-toxin yang sangat berguna bagi dunia farmasi, seperti polypeptide neurotoxin (Sh I), ShK, AsKS, BgK, HmK, AeK, AsKC 1-3, BDS-I, BDS-II, APETx1, dan Gigantoxin II and Gigantoxin III dari anemon Sticodaytyla gigantea, dll (Messerli & Greenberg, 2006: Marine Drugs. http://www.mdpi.org).

Anemon laut juga memiliki peranan dalam ekosistem terumbu karang. Menurut Advedlun et al., (2006), tidak kurang 51 spesies ikan karang melakukan simbiosis fakultatif dengan anemon laut, khususnya di perairan tropis. Antara kedua jenis binatang ini telah terjalin simbiose yang bersifat mutualisme. Anemon laut dan ikan Amphiprion dapat hidup dan tumbuh dengan baik bila hidup bersama-sama, tetapi bila sendiri-sendiri, maka pertumbuhan dan kelangsungan hidup salah satu atau keduanya akan terganggu. Menurut Shimek (2006), ada 10 spesies anemon yang dapat menjadi host bagi ikan-ikan giru yaitu Adhesive anemone, (Cryptodendrum adhaesivum), Bulb-tipped anemone, (Entacmaea quadricolor), Beaded anemone (Heteractis aurora), Sebae anemone (Heteractis crispa), Ritteri anemone (Heteractis magnifica), Malu anemone (Heteractis malu), Long-tentacled anemone (Macrodactyla doreensis), Gigantic carpet anemone (Stichodactyla gigantea), Haddoni atau green carpet anemone (Stichodactyla haddoni), dan Merten’s carpet anemone (Stichodactyla mertensii).

Seperti halnya karang dan beberapa biota bentik lainnya, pada sel-sel endodermis anemon laut berlimpah sel-sel zooxanthellae sebagai simbion intraselluler. Zooxanthellae adalah sel tunggal berupa alga dinoflagellata (coklat keemasan) yang hidup bersimbiose dalam sel-sel beberapa binatang laut seperti kebanyakan terumbu yang membentuk karang di daerah tropis dan anemon laut, beberapa hydroid, dan semua giant clam (Fautin and Allen (1997), Hasil penelitian menunjukkan, zooxanthellae mampu memberikan kontribusi terhadap fitness inang-inangnya dan produktivitas primer perairan disekitarnya. Ada kecenderungan zooxanthellae menjadi faktor-faktor pengendali dalam kelimpahan dan distribusi anemon laut (Rinkevick 1989; Muscatine and Weis 1992). Menurut Taylor (1969), zooxanthellae pada anemon laut (Anemonia sulcata) mampu mentransfer 60% dari total karbon yang difiksasi melalui proses fotosintesis.

Anemon laut jenis Stichodactyla gigantea memiliki densitas zooxanthellae mencapai 11,46 x 106/cm2 jauh lebih tinggi dibandingkan kima sisik Tridacna squamosa dan karang bercabang Acropora samoensis yang masing-masing hanya mencapai 4,04 x 106/cm2 dan 2,74 x 106/cm2. Begitu pula kandungan klorofil-a anemon mencapai 51,32 mg/m3 lebih tinggi dibandingkan kima dan karang bercabang masing-masing sebesar 28,04 mg/m3 dan 24,68 mg/m3 (Niartiningsih, 2001). Kehadiran zooxanthellae dan klorofil-a ini sangat penting dalam daur energi bagi anemon laut itu sendiri dan lingkungannya termasuk biota yang berasosiasi dengannya. Dengan kemampuan zooxanthellae aktif berfotosintesis, banyak karbon yang dihasilkan sehingga memungkinkan induk semangnya membentuk gliserol, glukosa, dan bahan organik lainnya.

Hasil penelitian Rifa’i (1998) dan Rifa’i dkk., (2003, 2004, 2005) menunjukkan, kehadiran anemon laut mampu meningkatkan keragaman biota pada ekosistem terumbu karang. Anemon laut mampu mengisi space-space habitat terumbu karang yang selama ini dikatagorikan sebagai non produktif seperti karang mati, karang hancur, dan pasir. Dengan demikian, kehadiran anemon pada ekosistem terumbu karang dapat menjadi biota pelengkap bukan pesaing space bagi kehidupan terumbu karang. Dalam fase kehidupannya anemon laut sangat membutuhkan habitat-habitat tersebut untuk menempelkan basal disk atau kaki jalannya. Anemon laut tidak akan pernah menempelkan basal disknya pada terumbu karang yang masih hidup.

Berdasarkan uraian di atas, secara ekologis kehadiran anemon laut dapat meningkatkan kinerja efisiensi energi dan mampu mengundang kehadiran ikan-ikan karang terutama ikan giru (Amphiprion) sehingga menimbulkan semakin beragamnya struktur tropik pada ekosistem terumbu karang. Kehadiran ikan-ikan karang ini berdampak positip terhadap penambahan bahan organik yang berasal dari fecesnya, dan dengan adanya kemampuan bakteri di terumbu maka bahan organik tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh biota-biota yang berasosiasi dengan terumbu karang, termasuk zooxanthellae dan alga lainnya.

C. Kondisi dan Upaya Pengelolaan

Perkembangan jumlah penduduk yang sangat cepat serta berkembang-nya ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan anemon laut terus meningkat terutama untuk memenuhi permintaan pasar ikan hias domestik dan ekspor. Sebagai contoh, di Sulawesi Selatan menurut Balai Besar Karantina Ikan Sulawesi Selatan, data lalu lintas domestik dan ekspor anemon laut pada tahun 2002 hanya mencapai 49.655 ekor dan pada tahun 2006 ini telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan mencapai 84.534 ekor. Kondisi serupa tentunya terjadi pula di propinsi lainnya di Indonesia, maupun di luar negeri.

Mengingat potensi, nilai, dan fungsi anemon laut yang dimilikinya, serta kondisi populasinya saat ini yang terus terdegradasi, maka upaya restocking dan budidaya harus segera dilakukan. Upaya ini membutuhkan benih anemon dalam kuantitas dan kualitas yang memadai. Benih yang dibutuhkan tidak mungkin lagi mengandalkan benih alami, melainkan benih dari hasil pembenihan konvensional. Hasil ujicoba selama 10 tahun terakhir ini, penulis telah mengembangbiakkan anemon laut jenis Stichodactyla gigantea secara vegetatif (aseksual) dengan teknik fragmentasi tubuh. Saat ini, benih-benih yang dihasilkan telah direstocking di alam, khususnya di perairan kawasan terumbu karang non produktif. Hasil uji coba menunjukkan selain mampu menambah populasi anemon di alam juga mampu mengurangi habitat atau kawasan terumbu karang yang rusak dengan hadirnya populasi baru anemon laut. Populasi baru anemon ini ternyata mampu meningkatkan nilai dan fungsi ekosistem terumbu karang sebagai biota pioner dan upaya perbaikan emergensi sambil menunggu lambatnya pertumbuhan karang yang hanya mencapai 3 – 5 cm per tahun. Di samping itu, benih yang dihasilkan dapat menjadi alternatif baru usaha budidaya laut komersial untuk memasok pasar ikan/anemon hias dalam negeri dan luar negeri. Teknologi reproduksi secara aseksual ini sangat memungkinkan dikembangkan pada spesies-spesies komersial lainnya yang diminati pasar nasional dan internasional.

Cribrinopsis albopunctata (Sanamyan & Sanamyan, 2006)Cribrinopsis albopunctata (Sanamyan & Sanamyan, 2006)
Actinostola chilensis (McMurrich, 1904)
Actinostola chilensis (McMurrich, 1904)
Phymactis papillosa (Lesson, 1830).

Phymactis papillosa (Lesson, 1830).


 Radianthus magnifica (Quoy, Gaimard, 1833)

Radianthus magnifica (Quoy, Gaimard, 1833)

Daftar Pustaka

Allen, G.R., 1975. The Anemonefishes: Their Classification and Biology, 2nd ed. T. F. H. Publ. Inc., Neptune City, N.J. 352 pp.

Arvedlund, M., K. Iwao, T.M. Brolund, and A. Takemura. 2006. Juvenile Thalassoma amblycephalum Bleeker (Labridae, Teleostei) Dwelling Among the Tentakel Sea Anemones. Acleanerfish with an Unusual Client? J.Exp.Mar.Biol.Ecol 329 (2006) 161-173

Boolootian, R.A. and Stiles, K.A. 1976. College Zoology. 9 th ed. Macmilan Publ.Co.Inc. New York.

Dunn, D. F. 1981. The clownfish sea anemones: Stichodactylidae (Coelenterata: Actiniaria) and other sea anemones symbiotic with pomacentrid fishes. Transactions of the American Philosophical Society 71(1): 1-115.

Fautin, D.G. and Allen. 1997. Field Guide to Anemone Fishes and Their Host Sea Anemones. 2nd ed. Western Australian Museum, Perth Australia. 160 pp. http://www.nhm.ku.edu. [Diakses : 31 Oktober 2006]

Messerli, S.M. R.M. Greenberg. 2006. Cnidarian Toxins Acting on Voltage-Gated Ion Channels. Mar. Drugs 2006, 4,1-12. http://www.mdpi.org. Diakses 10 Nopember 2007.

Muscatine, L. and V. Weis. (1992). Productivity of Zooxannthellae and Biogeochemical Cycles. In: Falkowski PG, Woodhead AD (eds). Primary Productivity and Biogeochemical Cycles. Plenum, New York, pp 257 – 271.

Niartiningsih, A. 2001. Analisis Mutu Zooxanthellae dari Berbagai Inang dan Pengharuhnya Terhadap Sintasan dan Pertumbuhan Juvenil Kima Sisik (Tridacna squamosa). Disertasi Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Makassar. 168 hal.

Rifa,i, M.A. 1998. Reproduksi Vegetatif Anemon Laut Stichodactyla gigantea (FORSSKAL, 1775) dan Upaya Rehabilitasi pada Berbagai Habitat Terumbu Karang Non Produktif. Tesis Pascasarjana Universitas Hasanuddin Ujung Pandang.

Rifa’i, M.A., P. Ansyari, H. Kudsiah, dan A. Naparin. 2003 – 2005. Rekayasa Fragmentasi Anemon Laut Jenis Stichodactyla gigantea untuk Restocking dan Rehabilitasi Kawasan Terumbu Karang non Produktif. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XI tahun 2003 – 2005. Lembaga Penelitian Unlam Banjarmasin.

Rinkevich, B. 1989. The Contribution of Photosynthetic Product to Coral Reproduction. Mar. Biol 101 : 259 – 263

Shimek, R.L. 2006. Main Attraction. Be A Host To Your Anemone. Reef Hobbyis Online. A Reefland Community . http://www.reefland.com. [Diakses : 31 Oktober 2006]

Storer, T.I., R.L. Usinger, and J.W. Nybakken. 1968. Elemens of Zoology. McGraw Hill Inc. New York.

Suwignyo, S., B. Widigdo, Y. Wardiatno, dan M. Krisanti. 2005. Avertebrata Air. Penebar Swadaya. Jakarta. 204 hal.

Taylor, D.L. 1969. The Nutritional Relationship of Anemonia sulcata (Pennant) and It’I Dinoflaellata Symbiont. J.Cell.Sceince, 4 : 751 – 762.


About these ads

Responses

  1. nama saya septian dari ipb jurusan ilmu dan teknologi kelautan.
    saya ingin mengenal lebih banyak tentang anemon laut.
    sepengetahuaan anda. anemon jenis apa aja yang sudah dapat di budidayakan? kebetulan dalam salah satu praktikum kami, kami sedang memelihara anemon.

    • Semua famili Stichodactilidae sangat mudah dibudidayakan. Hasil penelitian saya seperti S. gigantea, S. martensi, S. haddoni, dll. sangat gampang dibudidayakan dan dikembangbiakan dengan teknologi reproduksi aseksual. Saya punya banyak data dan dokumentasi tentang hal tsb. Tks.

  2. mohon maaf kesibukan saya belum sempat membalas surat budianto. Memang hingga saat ini buku dan literatur tentang anemon di indonesia sangat sulit ditemukan. Jika memang membutuhkan literatur itu ada jurnal saya yang terbit di pasca unhas secara online atau bisa ke perpustakaan unhas, coba lihat2 tesis dan disertasi saya. trims.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: