Oleh: muhammadahsin | November 15, 2011

power point

PENTINGNYA PENANGKARAN BIOTA LAUT

Oleh:
M. Ahsin Rifa’i

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Itulah rumusan Sumpah Pemuda versi orisinil yang dirumuskan dan ditulis oleh Muhammad Yamin pada secarik kertas yang kemudian dibacakan oleh Soegondo Djojopoespito, Ketua Kongres Pemuda II pada hari Minggu 28 Oktober 1928, 83 tahun yang silam di Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta.
Sumpah tersebut membulatkan tekad para pemuda untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia yang tertindas kekuasaan kolonialis selama ratusan tahun. Momentum 28 Oktober yang telah diikrarkan oleh pemuda Indonesia menjadi spirit kuat dan tonggak sejarah persatuan dan perjuangan bangsa Indonesia hingga mencapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Mencermati sejarah sumpah pemuda ini kita patut bersyukur telah memiliki pemuda-pemuda Indonesia saat itu seperti M.Yamin, Soegoendo, Tabrani, Amir Syarifuddin, Abu Hanifah, A.K. Gani, dan para pemuda lainnya di seluruh Indonesia yang memiliki semangat dan tekad yang kuat, tidak mau berpangku tangan untuk bersama-sama mengusir para penjajah yang telah bercokol ratusan tahun di bumi Indonesia. Semangat pemuda Indonesia ini harus terus kita pupuk dan pertahankan hingga era kemerdekaan sekarang kepada generasi muda, tentunya dengan versi yang bebeda yaitu semangat membangun untuk kesejahteraan suluruh rakyat Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Jauh sebelum Sumpah Pemuda, semangat dan keperkasaan bangsa Indonesia telah diakui oleh dunia di bidang kebaharian. Nenek moyang Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa pelaut. Pada abad ke-8, para pelaut Nusantara telah berhasil mengarungi samudera luas mencapai Madagaskar di Benua Afrika, Daratan Tiongkok, Birma, Srilangka, dan Autralia menggunakan perahu-perahu tradisonal Phinisi. Keperkasaan itu terus berlanjut hingga abad ke-16. Sejarah mencatat jaman keemasan pada era itu telah memunculkan tiga kerajaan besar di Indonesia yaitu Kerajaan Sriwijaya di Sumatera pada tahun 683 – 1030, Kerajaan Singosari dan Majapahit di Jawa pada tahun 1293 – 1478. Kehebatan bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut telah diabadikan oleh leluhur kita pada relief-relief di dinding Candi Borobudur berupa 10 relief kapal layar bertiang tinggi.
Seiring perjalanan waktu, kejayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut mulai meredup setelah berakhirnya masa Kerajaan Majapahit dan masuknya VOC pada tahun 1602 ke Indonesia yang kemudian menjajah hingga ratusan tahun. Sejak saat itu, terjadilah proses penurunan semangat dan jiwa bahari bangsa serta perubahan nilai-nilai dalam masyarakat Indonesia. Mengutip tulisan Kristiyanto dan Bandono (2011), sejak saat itu idealisme kebaharian (lautan) telah bergeser menjadi idealisme kontinental atau daratan. Akibatnya, pelaut-pelaut handal kita semakin menurun, banyak pemuda-pemuda terutama yang bermukim di sekitar pesisir enggan melaut dan lebih memilih pergi ke perkotaan mencari pekerjaan serabutan. Pelaut menurut mereka adalah masa lalu dan bekerja di laut sulit merupakan pekerjaan yang tidak menyenangkan dan membosankan. Sangat ironis, dewasa ini banyak pemuda-pemuda kita bahkan pemuda di wilayah pesisir sekalipun masih kurang mengenal akan fungsi dan peranan laut serta mega biodiversity yang terkandung di dalamnya yang jika dimanfaatkan akan menjadi potensi ekonomi yang sangat besar bagi perekonomian bangsa.
Lemahnya semangat kebaharian ini menyebabkan sumberdaya laut kita yang melimpah hilang percuma atau sia-sia, bahkan banyak sumberdaya ikan kita telah dicuri oleh banyak negara asing. Indonesia merupakan negara kepulauan (Archiphilagic State). Wilayah laut kita mencapai ±70% dari luas wilayah Republik Indonesia. Negara kita diapit oleh dua benua dan dua samudera sehingga berada di jalur persimpangan perdagangan dunia. Kita mempunyai kekayaan laut yang berlimpah dengan sumber mineral dan energi yang cukup potensial, seperti minyak dan gas bumi, mangan, timah, pasir besi, dan mineral radioaktif. Kita juga juga memiliki kekayaan ikan yang beraneka ragam, hutan mangrove, rumput laut, kerang-kerangan, echinodermata, kawasan terumbu karang, dan taman-taman laut yang kesemuanya berpotensi sebagai sumber bahan untuk farmasi dan ekowisata.
Beberapa penyebab lemahnya jiwa kebaharian bangsa Indonesia saat ini antara lain: (1) upaya sistematis bangsa penjajah kala itu telah berhasil memecah belah bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan, (2) Adanya pergeseran orientasi dari laut ke daratan dalam waktu lama sehingga kita kehilangan jati dirinya sebagai bangsa bahari, (3) sektor kelautan diposisikan sebagai anak tiri dalam pembangunan ekonomi nasional, setidak-tidaknya selama tiga dasa warsa terakhir, (4) kebijakan pemerintah masih cenderung bersifat simbolik yang populis namun belum ada tindaklanjutnya. Meskipun telah diselenggarakan berbagai event besar seperti sail bunaken dan sail wakatobi untuk memberikan dorongan dan semangat kepada bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim, namun gerak laju pembangunan kelautan tetap berjalan sangat lamban. (5) Sektor pendidikan dan pembinaan kepemudaan belum mendapatkan perhatian yang maksimal sebagai wahana sosialisasi pembangunan kelautan.
Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana upaya untuk membangkitkan semangat bahari bangsa Indonesia yang kini mulai pudar?. Jawaban sulit untuk dilakukan dalam waktu singkat. Menumbuh-kembangkan semangat dan jati diri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Spirit Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober, delapan puluh tiga tahun yang lalu tentunya dapat menjadi spirit untuk memupuk dan menumbuh-kembangkan kembali semangat kebaharian bangsa Indonsia. Jika pada jaman penjajahan spirit sumpah pemuda bertujuan untuk mengusir penjajah agar hengkang dari bumi pertiwi, maka pada era kemerdekaan ini spirit sumpah pemuda bertujuan untuk mempertahankan dan memanfaatkan segenap wilayah perairan kita agar dapat digunakan sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Wilayah perairan kita tidak boleh lagi menjadi sasaran empuk pencuri asing untuk mengeruk sumberdaya ikan dan sumberdaya lainnya. Setiap jengkal wilayah perairan kita harus kita berdayakan secara optimal untuk kepentingan rakyat. Tekad dan semangat sumpah pemuda harus terus kita gelorakan sehingga dapat menjadi tekad dan semangat di bidang kebaharian. Dengan meningkatnya semangat kebaharian, sebutan Indonesia sebagai bangsa pelaut tidak lagi sebagai sejarah masa lalu tatapi menjadi akan fakta dimasa yang akan datang. Semoga spirit sumpah pemuda dapat menjadi inspirasi dan spirit pembangunan kelautan Indonesia.

A. Deskripsi Anemon Laut

Anemon laut merupakan salah satu jenis karang dari filum Cnidaria. Karang dan anemon laut adalah anggota taksonomi kelas yang sama, yaitu Anthozoa. Perbedaan utama adalah karang menghasilkan kerangka luar dari kalsium karbonat, sedangkan anemon tidak. Lebih dari 1.000 spesies anemon laut ditemukan di perairan pantai, perairan dangkal (terumbu karang), dan perairan laut dalam di seluruh dunia.

Anemon laut adalah binatang invertebrata yang tidak memiliki tulang belakang atau tidak memiliki skeleton pada seluruh tubuhnya. Anemon merupakan hewan predator yang tampak seperti bunga, memiliki berbagai bentuk, ukuran, dan warna. Tubuhnya radial semetrik, columnar dan memiliki satu lubang mulut yang dikelilingi oleh tentakel. Tentakel dapat melindungi tubuhnya terhadap serangan predator lain dan dapat pula digunakan untuk menangkap makanannya. Anemon laut biasanya memiliki ukuran diameter tubuh 1-4 inchi (2,5-10 cm), tetapi beberapa anemon ada juga yang dapat tumbuh mencapai diameter tubuh 6 kaki (1,8 m).

Menurut Shimek (2006), secara umum anemon laut adalah hewan berkantung yang mempunyai tentakel dan mulut pada pada bagian atas dan pedal disk pada bagian bawah. Pedal disk atau kaki jalan ini secara khusus digunakan oleh anemon untuk melengketkan tubunya pada substrat (Gambar 1).

Anemon laut tergolong binatang yang dapat memakan binatang apa saja yang hidup di laut, namun ia lebih bersifat karnivora. Jenis makanan yang bisa disantap adalah moluska, krustasea, ikan, dan berbagai invertebrata lainnya. Juga dapat memakan detritus, feses, dan bahan organik.

Reproduksi anemon laut umumnya dilakukan baik secara seksual maupun aseksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara memutuskan bagian kakinya, yaitu bagian dari lingkar kaki yang ditinggalkan pada saat binatang tersebut berpindah tempat. Jenis anemon lain dengan cara merangkak perlahan ke arah yang berlawanan hingga tubuhnya terputus menjadi dua bagian. Bagian tersebut kemudian membulat dan hidup menjadi anemon-anemon baru. Tiga jenis anemon laut dari famili Stichodactylidae melakukan reproduksi secara aseksual dengan pembelahan longitudinal dan transversal. Ketiga jenis anemon ini adalah Stichodactyla helianthus, Entacmaea quadricolor (longitudinal) dan Heteractis maginifica (transversal) (Dunn (1981). Sedangkan reproduksi seksual terjadi di dalam air. Sperma dan telur keluar melalui mulut dan bersatu membentuk zigot kemudian berkembang menjadi larva. Larva ini akan berenang dan mencari makan sendiri hingga akhirnya melekat di dasar sebagai bentik dan tumbuh menjadi anemon dewasa (Boolootian and Stiles, 1976). Anemon laut dapat juga bersifat hermaprodit. Telur dan sperma dari jenis yang hermaprodit ini dihasilkan dari gonad-gonad yang terletak dalam gastroderm pada waktu yang berbeda. Peristiwa ini dikenal sebagai protandri dan umum terjadi pada invertebrata

Penyebaran anemon laut sangat luas mulai perairan sub tropis hingga perairan tropis. Di alam bebas anemon ditemukan hidup secara soliter dan bergerombol membentuk koloni. Anemon yang hidup soliter termasuk dalam bangsa atau ordo Actinaria, sedang yang hidup bergerombol termasuk dalam bangsa atau ordo Zoanthidea. Anemon hidup di dasar laut menempel pada benda keras, pecahan karang, pasir. Ada pula yang sedikit membenamkan bagian tubuhnya ke dasar tanah yang agak berlumpur. Anemon umumnya dijumpai pada daerah terumbu karang yang kurang subur dan dangkal, di goa atau di lereng terumbu. Namun ada juga yang hidup di tepian padang lamun.

B. Nilai dan Fungsi Anemon

Anemon laut merupakan salah satu komoditi perairan yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis. Biota ini sangat populer sebagai bahan makanan laut (Sea Food), terutama di luar negeri antara lain Perancis, Jepang, Korea, dan Kepulauan Pasifik bagian Timur. Nilai ekonomis penting lainnya adalah dapat dijadikan sebagai hewan pengisi akuarium yang sangat indah dan menarik karena memiliki bentuk tubuh yang meyerupai bunga beraneka warna. Menurut Suwignyo dkk., (2005), beberapa jenis anemon laut seperti Actinaria equima, Anemonia sulcata, Bunodactis verrocosa, Redianthus malu, dan Stoichactis keuti telah di ekspor ke Singapura, Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada sebagai anemon hias untuk akuarium laut. Selain itu anemon memiliki sel-sel penyengat (nematokis) yang mengandung bioaktif potensial berupa toxin-toxin yang sangat berguna bagi dunia farmasi, seperti polypeptide neurotoxin (Sh I), ShK, AsKS, BgK, HmK, AeK, AsKC 1-3, BDS-I, BDS-II, APETx1, dan Gigantoxin II and Gigantoxin III dari anemon Sticodaytyla gigantea, dll (Messerli & Greenberg, 2006: Marine Drugs. http://www.mdpi.org).

Anemon laut juga memiliki peranan dalam ekosistem terumbu karang. Menurut Advedlun et al., (2006), tidak kurang 51 spesies ikan karang melakukan simbiosis fakultatif dengan anemon laut, khususnya di perairan tropis. Antara kedua jenis binatang ini telah terjalin simbiose yang bersifat mutualisme. Anemon laut dan ikan Amphiprion dapat hidup dan tumbuh dengan baik bila hidup bersama-sama, tetapi bila sendiri-sendiri, maka pertumbuhan dan kelangsungan hidup salah satu atau keduanya akan terganggu. Menurut Shimek (2006), ada 10 spesies anemon yang dapat menjadi host bagi ikan-ikan giru yaitu Adhesive anemone, (Cryptodendrum adhaesivum), Bulb-tipped anemone, (Entacmaea quadricolor), Beaded anemone (Heteractis aurora), Sebae anemone (Heteractis crispa), Ritteri anemone (Heteractis magnifica), Malu anemone (Heteractis malu), Long-tentacled anemone (Macrodactyla doreensis), Gigantic carpet anemone (Stichodactyla gigantea), Haddoni atau green carpet anemone (Stichodactyla haddoni), dan Merten’s carpet anemone (Stichodactyla mertensii).

Seperti halnya karang dan beberapa biota bentik lainnya, pada sel-sel endodermis anemon laut berlimpah sel-sel zooxanthellae sebagai simbion intraselluler. Zooxanthellae adalah sel tunggal berupa alga dinoflagellata (coklat keemasan) yang hidup bersimbiose dalam sel-sel beberapa binatang laut seperti kebanyakan terumbu yang membentuk karang di daerah tropis dan anemon laut, beberapa hydroid, dan semua giant clam (Fautin and Allen (1997), Hasil penelitian menunjukkan, zooxanthellae mampu memberikan kontribusi terhadap fitness inang-inangnya dan produktivitas primer perairan disekitarnya. Ada kecenderungan zooxanthellae menjadi faktor-faktor pengendali dalam kelimpahan dan distribusi anemon laut (Rinkevick 1989; Muscatine and Weis 1992). Menurut Taylor (1969), zooxanthellae pada anemon laut (Anemonia sulcata) mampu mentransfer 60% dari total karbon yang difiksasi melalui proses fotosintesis.

Anemon laut jenis Stichodactyla gigantea memiliki densitas zooxanthellae mencapai 11,46 x 106/cm2 jauh lebih tinggi dibandingkan kima sisik Tridacna squamosa dan karang bercabang Acropora samoensis yang masing-masing hanya mencapai 4,04 x 106/cm2 dan 2,74 x 106/cm2. Begitu pula kandungan klorofil-a anemon mencapai 51,32 mg/m3 lebih tinggi dibandingkan kima dan karang bercabang masing-masing sebesar 28,04 mg/m3 dan 24,68 mg/m3 (Niartiningsih, 2001). Kehadiran zooxanthellae dan klorofil-a ini sangat penting dalam daur energi bagi anemon laut itu sendiri dan lingkungannya termasuk biota yang berasosiasi dengannya. Dengan kemampuan zooxanthellae aktif berfotosintesis, banyak karbon yang dihasilkan sehingga memungkinkan induk semangnya membentuk gliserol, glukosa, dan bahan organik lainnya.

Hasil penelitian Rifa’i (1998) dan Rifa’i dkk., (2003, 2004, 2005) menunjukkan, kehadiran anemon laut mampu meningkatkan keragaman biota pada ekosistem terumbu karang. Anemon laut mampu mengisi space-space habitat terumbu karang yang selama ini dikatagorikan sebagai non produktif seperti karang mati, karang hancur, dan pasir. Dengan demikian, kehadiran anemon pada ekosistem terumbu karang dapat menjadi biota pelengkap bukan pesaing space bagi kehidupan terumbu karang. Dalam fase kehidupannya anemon laut sangat membutuhkan habitat-habitat tersebut untuk menempelkan basal disk atau kaki jalannya. Anemon laut tidak akan pernah menempelkan basal disknya pada terumbu karang yang masih hidup.

Berdasarkan uraian di atas, secara ekologis kehadiran anemon laut dapat meningkatkan kinerja efisiensi energi dan mampu mengundang kehadiran ikan-ikan karang terutama ikan giru (Amphiprion) sehingga menimbulkan semakin beragamnya struktur tropik pada ekosistem terumbu karang. Kehadiran ikan-ikan karang ini berdampak positip terhadap penambahan bahan organik yang berasal dari fecesnya, dan dengan adanya kemampuan bakteri di terumbu maka bahan organik tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh biota-biota yang berasosiasi dengan terumbu karang, termasuk zooxanthellae dan alga lainnya.

C. Kondisi dan Upaya Pengelolaan

Perkembangan jumlah penduduk yang sangat cepat serta berkembang-nya ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan anemon laut terus meningkat terutama untuk memenuhi permintaan pasar ikan hias domestik dan ekspor. Sebagai contoh, di Sulawesi Selatan menurut Balai Besar Karantina Ikan Sulawesi Selatan, data lalu lintas domestik dan ekspor anemon laut pada tahun 2002 hanya mencapai 49.655 ekor dan pada tahun 2006 ini telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan mencapai 84.534 ekor. Kondisi serupa tentunya terjadi pula di propinsi lainnya di Indonesia, maupun di luar negeri.

Mengingat potensi, nilai, dan fungsi anemon laut yang dimilikinya, serta kondisi populasinya saat ini yang terus terdegradasi, maka upaya restocking dan budidaya harus segera dilakukan. Upaya ini membutuhkan benih anemon dalam kuantitas dan kualitas yang memadai. Benih yang dibutuhkan tidak mungkin lagi mengandalkan benih alami, melainkan benih dari hasil pembenihan konvensional. Hasil ujicoba selama 10 tahun terakhir ini, penulis telah mengembangbiakkan anemon laut jenis Stichodactyla gigantea secara vegetatif (aseksual) dengan teknik fragmentasi tubuh. Saat ini, benih-benih yang dihasilkan telah direstocking di alam, khususnya di perairan kawasan terumbu karang non produktif. Hasil uji coba menunjukkan selain mampu menambah populasi anemon di alam juga mampu mengurangi habitat atau kawasan terumbu karang yang rusak dengan hadirnya populasi baru anemon laut. Populasi baru anemon ini ternyata mampu meningkatkan nilai dan fungsi ekosistem terumbu karang sebagai biota pioner dan upaya perbaikan emergensi sambil menunggu lambatnya pertumbuhan karang yang hanya mencapai 3 – 5 cm per tahun. Di samping itu, benih yang dihasilkan dapat menjadi alternatif baru usaha budidaya laut komersial untuk memasok pasar ikan/anemon hias dalam negeri dan luar negeri. Teknologi reproduksi secara aseksual ini sangat memungkinkan dikembangkan pada spesies-spesies komersial lainnya yang diminati pasar nasional dan internasional.

Cribrinopsis albopunctata (Sanamyan & Sanamyan, 2006)Cribrinopsis albopunctata (Sanamyan & Sanamyan, 2006)
Actinostola chilensis (McMurrich, 1904)
Actinostola chilensis (McMurrich, 1904)
Phymactis papillosa (Lesson, 1830).

Phymactis papillosa (Lesson, 1830).


 Radianthus magnifica (Quoy, Gaimard, 1833)

Radianthus magnifica (Quoy, Gaimard, 1833)

Daftar Pustaka

Allen, G.R., 1975. The Anemonefishes: Their Classification and Biology, 2nd ed. T. F. H. Publ. Inc., Neptune City, N.J. 352 pp.

Arvedlund, M., K. Iwao, T.M. Brolund, and A. Takemura. 2006. Juvenile Thalassoma amblycephalum Bleeker (Labridae, Teleostei) Dwelling Among the Tentakel Sea Anemones. Acleanerfish with an Unusual Client? J.Exp.Mar.Biol.Ecol 329 (2006) 161-173

Boolootian, R.A. and Stiles, K.A. 1976. College Zoology. 9 th ed. Macmilan Publ.Co.Inc. New York.

Dunn, D. F. 1981. The clownfish sea anemones: Stichodactylidae (Coelenterata: Actiniaria) and other sea anemones symbiotic with pomacentrid fishes. Transactions of the American Philosophical Society 71(1): 1-115.

Fautin, D.G. and Allen. 1997. Field Guide to Anemone Fishes and Their Host Sea Anemones. 2nd ed. Western Australian Museum, Perth Australia. 160 pp. http://www.nhm.ku.edu. [Diakses : 31 Oktober 2006]

Messerli, S.M. R.M. Greenberg. 2006. Cnidarian Toxins Acting on Voltage-Gated Ion Channels. Mar. Drugs 2006, 4,1-12. http://www.mdpi.org. Diakses 10 Nopember 2007.

Muscatine, L. and V. Weis. (1992). Productivity of Zooxannthellae and Biogeochemical Cycles. In: Falkowski PG, Woodhead AD (eds). Primary Productivity and Biogeochemical Cycles. Plenum, New York, pp 257 – 271.

Niartiningsih, A. 2001. Analisis Mutu Zooxanthellae dari Berbagai Inang dan Pengharuhnya Terhadap Sintasan dan Pertumbuhan Juvenil Kima Sisik (Tridacna squamosa). Disertasi Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Makassar. 168 hal.

Rifa,i, M.A. 1998. Reproduksi Vegetatif Anemon Laut Stichodactyla gigantea (FORSSKAL, 1775) dan Upaya Rehabilitasi pada Berbagai Habitat Terumbu Karang Non Produktif. Tesis Pascasarjana Universitas Hasanuddin Ujung Pandang.

Rifa’i, M.A., P. Ansyari, H. Kudsiah, dan A. Naparin. 2003 – 2005. Rekayasa Fragmentasi Anemon Laut Jenis Stichodactyla gigantea untuk Restocking dan Rehabilitasi Kawasan Terumbu Karang non Produktif. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XI tahun 2003 – 2005. Lembaga Penelitian Unlam Banjarmasin.

Rinkevich, B. 1989. The Contribution of Photosynthetic Product to Coral Reproduction. Mar. Biol 101 : 259 – 263

Shimek, R.L. 2006. Main Attraction. Be A Host To Your Anemone. Reef Hobbyis Online. A Reefland Community . http://www.reefland.com. [Diakses : 31 Oktober 2006]

Storer, T.I., R.L. Usinger, and J.W. Nybakken. 1968. Elemens of Zoology. McGraw Hill Inc. New York.

Suwignyo, S., B. Widigdo, Y. Wardiatno, dan M. Krisanti. 2005. Avertebrata Air. Penebar Swadaya. Jakarta. 204 hal.

Taylor, D.L. 1969. The Nutritional Relationship of Anemonia sulcata (Pennant) and It’I Dinoflaellata Symbiont. J.Cell.Sceince, 4 : 751 – 762.


Oleh: muhammadahsin | Maret 1, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori